Semarang, Kota Kecil yang Lucu

Sebenarnya saya pernah ke kota ini, dulu banget zaman masih kuliah, menghadiri pesta pernikahan sepupu saya (sekarang sudah almarhum) Ramadan Arif Purnama. Waktu itupun hanya menginap semalam, lalu melanjutkan travelling (asyik juga ya jadi backpacker) ke Salatiga.

Akhir Agustus 2007 lalu, saya mendapat kesempatan business trip ke Semarang, berdua dengan Dwie. Seharusnya berangkat Senin malam, melakukan “sesuatu” sepanjang Selasa-Rabu, lalu kembali ke Jakarta di hari Kamis pagi. Karena saya tidak ingin meninggalkan Alif lebih dari semalam, maka kami berangkat Selasa pagi dan kembali Rabu malam.

Apalah yang bisa direkam dalam kunjungan yang lamanya kurang dari 36 jam ini? Tidak banyak, saya hanya sempat memotret (dengan Casio EX-Z110 saja) beberapa landmark. Di antaranya bandara internasional Ahmad Yani yang sekilas mirip terminal bis antar kota, lalu Lawang Sewu yang konon banyak “penunggu”-nya, taman bermain Wonderia yang sepi (mungkin karena bukan akhir pekan?).

Tentang wisata kuliner, saya hanya sempat makan siang di Bandeng Juwana dan malamnya mencicipi masakan serba pedas (the real hot dinner!) di Mbah Jingkrak. Untungnya tidak lupa membeli oleh-oleh “wajib” khas kota ini sebelum ke bandara: Lunpia Mbak Lien, wingko babat, bandeng presto.

Paling tidak ini jadi pelajaran berharga: Next time when assigned to other regional office visits, I shall prepare my self with list of point-of-interests and “must-try” culinary objects.

Advertisements